Namaku, Justin Peyton, 29 tahun, warga kulit hitam Amerika (African American) dari Philadelphia, Pensylvania. Aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang dalam sebuah keluarga dari kelas menengah.
Meski aku tercatat sebagai orang kristani, namun secara praktik tak pernah mengikuti acara kegiatan gereja secara rutin, seperti misa minggu. Satu-satunya kegiatan 'religius' di keluarga kami hanyalah merayakan natal.
Aku benar-benar bersyukur karena keluargaku memiliki keterbukaan pandangan (open minded), orang tuaku berwawasan luas, saling menghormati dan menghargai keyakinan dan pandangan hidup yang berbeda dengan keluarga kami. Kondisi ini yang memberikan kontribusi besar pada penerimaanku terhadap nilai-nilai Islam di kemudian hari.
Meskipun banyak media massa Amerika yang memberikan opini kurang baik terhadap Islam dan komunitas Muslim, namun kenyataan ini tak menyurutkan minatku untuk mempelajari Islam. Aku mulai bergaul dan mendekati teman-teman dan komunitas muslim yang ada di Philadelphia. Dengan 'open minded' yang ditanamkan orang tuaku, aku mulai meneliti fakta-fakta yang bisa membuktikan kebenaran nilai-nilai Islam, agar aku bisa secara objektif bisa membandingkan opini media massa Islam dengan pengalaman pribadiku.
Waktu itu aku masih mahasiswa, dan tempat pertama yang aku jadikan tempat mencari informasi tentang Islam adalah lewat internet.Dan aku menemukan situs khusus yang ditujukan untuk orang-orang Non Muslim yang ingin mengenal Islam.Dari internet, aku menemukan informasi yang memuat artikel tentang dasar-dasar keyakinan dan ajaran amaliah yang harus diterapkan orang Muslim. Topik yang lebih mendalam tentang Tuhan, Nabi-nabi-Nya, Kitab-kitab-Nya, Hari Kiamat dan lain-lain aku telaah dengan serius.
Dari toko buku setempat aku juga membeli kitab Qur'an dan pelan-pelan mulai belajar membaca dan menelaah isinya, tentu saja dengan bantuan teman-teman yang aktif di masjid setempat.Ada sesuatu yang aku rasakan meresap ke relung hatiku setelah menelaah Qur'an. Dan aku mulai intensif berdiskusi dengan para aktivis masjid... Sampai pada musim panas 2002, akhirnya aku mengikrarkan dua kalimat syahadat, dan komunitas muslim setempat sangat memberikan kontribusi besar bagi kehidupan baruku sebagai seorang mualaf...
(Sumber: An African American Finds Islam, WWW.readingislam.com)
Menyingkap Tabir Motivasi, Sukses, dan Pengembangan Diri
-
Tahukah Anda, kita bisa merasa gelap padahal kita berada di tempat yang
terang benderang? Analoginya adalah Anda bisa merasa teduh bahkan cendrung
gelap me...








Incredible! Tapi nyata, memang kalau Allah sudah KUN FAYAKUN, siapa yang dikehendaki_nya bisa memperoleh hidayah-Nya....Subhanallah...
ReplyDelete